Pages

Kamis, 29 November 2012

Resensi buku sejarah Nasional



RESENSI BUKU SEJARAH NASIONAL

Judul              : Sejarah Wali Songo Misi Pengislaman Di Tanah Jawa
Penulis          : Budiono Hadi Sutrisno
Penerbit       : Graha Pustaka Yogyakarta
Cetakan        : Juni 2008, Cetakan V
Halaman       : 227 Halaman
Resensi Sejarah Wali Songo:

                   Perjuangan Wali Songo dalam menyebarkan Agama Islam di Indonesia khususnya Pulau Jawa sangat berat karena kondisi spiritual atau masyarakat di jawa

khususnya sudah terlanjur mengakar kuat dalam struktur sosial dan spritual masyarakat seperti masyarakat pada abad ke 5 sudah memeluk agama hindu akibat dari penyebaran yang dilakukan oleh para brahmana dan munculnya kerajaan kerajaan hindu budha di Indonesia membuat masyarakat jawa semakin erat memeluk agama hindu yang tercampur dari kepercayaan nenek moyang dan akhirnya bercampur dengan agama hindu dan budha, tapi ketika Majapahit sebagai kerajaan Hindu terbesar di nusantara mulai runtuh dan Para wali songo mulai datang ke Indonesia dimulai dari abad ke 15 berdasarkan batu nisan Maulana Malik Ibrahim yang disebut sebagai sesepuh wali dan wali pertama yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa (Hal 11 Bab 1) penyebaran dakwah Islam oleh wali Songo dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, wali kedua yaitu Sunan Ampel yang berdakwah di Surabaya tepatnya di Ampel Denta dan mendirikan pesantren sekaligus Masjid yang di gunakan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah kerajaan Majapahit,Sunan Ampel juga menjadi sesepuh atau mufti para wali pengganti Maulana Malik Ibrahim(Hal 25 Bab 2)Proses Islamisasi di Pulau Jawa berjalan dengan aman dan damai,tanpa ada pergolakan serta kegoncangan psikologis dan sosial.hal ini di sebabkan para wali lebih menggunakan pendekatan cultural yang sarat dengan symbol symbol kebudayaan local,seperti wayang dan gamelan. Contoh wali yang media dakwahnya berupa gamelan dan wayang adalah Sunan kalijaga(Bab 9 hal 178-179) yang berhasil menggabungkan unsure kebudayaan local,hindu budha dan Islam secara baik sehingga dapat di terima masyarakat,akulturasi kebudayaan selanjutnya di lanjutkan juru dakwah berikutnya,sehingga praktek Islam dijawa terasa amat khas.Agama dan budaya berjalan secara selaras,serasi dan seimbang.
Kelemahan buku ini hanya karena isinya yang terlalu banyak versi cukup bertele tele.

           untuk Kelebihan dari buku ini adalah Budiono Hadi Sutrisno sebagai penulis mampu meberikan bukti kongkret dan penjelasan yang sistematis dan komprehensif tentang sejarah perkembangan Islam di tanah jawa,. Dan mengulas Kecerdasan spiritual dan cultural dalam keberhasilannya melakukan misi pengislaman masyarakat di seluruh tanah jawa di kupas tuntas secara damai tanpa pergolakan.Buku referensial,lengkap padat dan jelas berguna bagi Masyarakat Islam.







Judul : Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi
Penulis : Saleh Danasasmita
Penerbit : Kiblat Buku Utama
Tahun Terbit : 2003, Nopember - Cetakan I
Tebal Buku : 148 halaman

            Buku ini merupakan kumpulan tulisan Saleh Danasasmita (alm.) yang dimuat di berbagai majalah Sunda dalam kurun waktu 1960-1970-an. Isi buku ini juga dalam bahasa Sunda, tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Bapak Saleh sangat menaruh perhatian pada sejarah dan kebudayaan Sunda, terutama segmen atau era kerajaan Sunda. Apalagi beliau tinggal lama di Bogor tempat banyak peninggalan kerajaan Sunda.

               Mungkin juga yang menjadi dorongan lainnya untuk menulis segmen ini, karena dalam bunga rampai sejarah Indonesia sejarah Sund ditulis sangat singkat. Apalagi yang diajarkan di sekolah-sekolah, misalnya tiba-tiba saja disebutkan Pajajaran dikalahkan sewaktu direbutnya Sunda Kalapa oleh Fadhillah. Raja Wastu Kancana dan Sri Baduga yang jelas-jelas ada prasastinya tidak mendapat paparan yang memadai disbanding Ken Arok yang bahannya dari lontar Pararaton.

               Pak Saleh berseloroh, “Jangan-jangan nanti sejarah Sunda (di Sekolah) sangat berubah, dari jaman Tarumanagara langsung ke jaman VOC. Bukan berubah mungkin, tetapi asal tertera saja oleh penulisnya yang tidak punya perhatian. Dari pada tidak sama sekali. Takut disebut tidak adil” (hal. 146).

             Bab Pertama membahas arti Pakuan Pajajaran. Berbagai pendapat dari peneliti Belanda dan Indonesia disajikan terakhir ditutup dengnan hasil kajian Saleh sendiri. Dalam Bab Empat dirinci raja-raja setelah Pasunda-Bubat dan yang menarik adalah siapa raja Pajajaran yang gugur di Bubat. Ini akan menjadi mata rantai ke Bab Delapan yang membahas Siliwangi-Susuhunan Pajajaran.

               Banyak orang yang menyangka raja yang gugur di Bubat adalah Siliwangi. Tetapi banyak pula yang menyangkal tak mungkin Siliwangi yang menjadi legenda Sunda adalah raja yang gugur di Bubat. Saleh berpendapat bahwa yang disebut Siliwangi adalah Sri Baduga atau Ratu Jayadewata yang menjadi Susuhunan Pajajaran tahun 1482-1521 M. Jauh setelah Peristiwa Bubat tahun 1357 M.

                   Bagi orang Sunda penting membaca buku ini meskipun berupa tulisan-tulisan lepas di berbagai Majalah. Memang tidak akan seperti membaca buku Sejarah Jawa Barat. Penerbit telah berusaha menghimpun dan menyusun sedemikian rupa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar