Pages

Kamis, 29 November 2012

Macam - macam Puisi baru




Minggu Kelabu

Minggu pagi kelabu
Kuberjalan tiada tentu
Angin sejuk menerpa rambutku
Bawaaku ketepi jalan itu

Bus berhenti tepat didepanku
Ku melangkah naik, lalu duduk dibangku
Kubuka jendela kaca
Pandangan kulempar keluar sana

Mataku terbelalak
Saat melihat balihonya
Ya, itu dia
Dia yang membuatku sepertiini
Dia yang menghancuurkan hidupku
Dia yang porak-porandakan keluargaku

Karena dia kami miskin
Karena dia kami melarat
Ku gapai wajahnya
Kucakar dia dengan kuku-kukuku
Hahahahaha
Aku ketawa penuh kepuasan

 





PERJALANAN
Saat hujan semakin deras
kusuri jalan selangkah demi selangkah
Kuraba bajuku yang sudah kuyup
serasa dingin udara menusuk

sebentar kutoleh kebelakang
Terlihat jelas roda sejarah membentang
Angin kencang
Percikan hujan
Halilintar

Semuanya adalah terpaan kehidupan
Aku berharap reda khan tiba
Terang khan menjelma
Menjadikan hidup penuh makna

 



         Di Sisi Malam

Ketika kabut tersibak
Rembulan memancarkan sinarnya
Malam yang muram telah berlalu
Makna kegelapan menjadi tertampikan
Nur kebenaran adalah kebenderangan

Saat kepala makin merunduk
Kucium tanah bukti kehinaanku
Sebagai tanda Agungnya sang Khalik

Isak tangisan begitu lirih
Seirama kidung detak jantung
Air mata berderai tak tertahan
Mencapai kekhusukan semakin dalam

Saat dingin semakin menusuk
Disinilah aku semakin mengenal Tuhan


 


Sosok Itu

Wanita malam jadi kenangan
Dalam suatu perjalanan
Bola matanya indah menggoda
Memberi rayuan tentang kemesraan

Sungguh murah kau tawarkan
Ternyata cukup uang recehan
Cuma sekedar untuk membeli jajanan

Pernah sesekali aku tanyakan
Mengapa tak kau tinggalkan hal demikian
Sebab itu kesia-siaan

Tak salah memang kau katakan
Kalau itu saling menguntungkan
Tetapi ada pihak yang dirugikan
Ibumu yang melahirkan

 


Di Ladang Tua
Sekian lama aku tak jumpa
Bayangan kerinduan kian terasa
Tak tahan ingin mendengar cerita
Seperti beberapa waktu yang lalu
Ketika kau berkisah di ladang tua

Hari pertama
Kau terdiam tak dapat bicara
Hanya mencucurkan air mata
Saat kucoba menghapusnya
Kau tepiskan tanganku
Waktu itu aku bertanya
Mengapa ???
Namun kau tak kuasa menjawabnya
Tapi aku tahu kau tidak merahasiakannya

Hari kedua
Kau baru menjawabnya
Kau merasa khawatir tentang adikmu
Yang hidup dirantau orang
Kau takut dia tergoda
Oleh bias remang cahaya kota
Namun kau tak kuasa meneruskan cerita
Kau cucurkan lagi air mata

Hari ketiga
Kau melanjutkan ceritanya
Bagiku makan tidak masalah
Hidup di desa tak akan kelaparan
Namun di kota adikku mau makan apa
Justru aku takut adikku dimakan orang
Katanya di kota saat sekarang
Tidak berfikir lagi besok makan apa
Tetapi besok saya mau makan siapa
Kau menangis lagi
Membuang air mata tanda berduka

 


CERITA INDAH DARI KISAH LALU
Oleh SBI

Ketika ku beranjak dari senyuman ini. . .
membawa rasa sedih di masa lalu. . .
kutepis indah bayang wajahmu dalam tiap lamunku. . .

Kucoba tuk bangun dari sisa hidupku. . .
berharap terlelap di dalam mimpi indah itu. . .
disaat ku terhempas di atas sepi ini. . .

Ku sendiri. . . .
menatap indah kesedihanku. . .
kenangan di masa lalu. . .

Melangkah bersama di sepanjang jalan ini. . .
perlahan kita menghapus sepi dalam hati. . .
mengobati rasa rindu di hati. . .
Namun kini,
hidup yang kurasa bagai air tanpa hadirmu. . .
dalam hidupku,
kesepianku tanpa senyumanmu. . .

Hilang sudah kisah terindah yang selalu membuatku rindu padamu. . .
tinggal harapan mimpi panjang. . .
menggapai alunan syair indah yang selalu kunantikan. . .

Dalam mimpiku. . .
dalam hidupku. . .
dalam kisahku. . .
kisah indah di masa lalu. . .
 















Balada
Puisi yang bertemakan kisah atau cerita
Tuhan

Dalam diam kusebut nama-Mu
Benar sungguh aku takut akan murka-Mu
Ku harap tuhan

Kan selalu sayang padaku
Karena kehendak-Mu aku ada
Ku hanya bisa

Berharap dan berdoa
Pada-Mu tuhan
Kasih sayang-Mu kuharapkan

 














 




Aku Tak Ragu

Tuhan,
Aku yakin dengan segala kasih-Mu
Dan aku percaya akan semua sayang-Mu
Namun mengapa aku ini ???

Selalu tak tahu diri
Apakah ada sesuatu yang mengunci hatiku ?!
Sehingga aku lupa akan semua cinta-Mu

Tuhan,
Kau pasti selalu mendekapku
Namun aku tempikkan arti kehangatan-Mu
Apakah aku insan tak tahu balas budi ?!

Kurang bersyukur
Selalu mencari dan berharap yang lebih
Bahkan tanpa terasa dan tak tersadari
Mungkin aku memohon selain kepada-Mu

Tuhan,
Andaikan aku selalu bersujud pada-Mu
Dan bersimpuh di dalam rumah-Mu
Tentu Engkau mau menerima tobatku
Namun aku kadang merasa lain
Karena banyak dosa yang kulakukan

 


Keindahan Ciptaan Tuhan

laut biru membetang
tak terbatas oleh pandangan
lambaian pohon kelapa
menambah suasana keindahan
lanagit seakan akan menjadi cerminnya

burung kian kesana kemari
menambah suasana keindahan laut
orang sekitar pun menambah keramaian
hembusan angin membawa kesejukan hati
hingga aku terpesona atas keagungan tuhan

 



Keagungan Ilahi

Ratu malam sang rembulan
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,

Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti

Tiada yang kalah
Tak ada yang menag,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!

Dunia berputar,
Saling mengisi,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Takkan ada yang lain,

Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?

Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa

 



Pahlawan



Di balik dawai dia berjasa,

Bersembunyi namun terdengar,

Pengantar alunan tanpa terpandang,

Deretan nada tercipta oleh getaran,


Tanpa jasa, beliau mengantar ketentraman di keramaian,

Sekarang, alunan tercipta indah,

Mengalun tenang dan menidurkan,

Menidurkan mereka sehingga terbuai kenikmatan,


Tidak ingat pengantar, lupa akan pembawa kenikmatan,

Nikmat, nikmat, dan nikmat..

Tanpa tahu getir pahit sang pengantar kenikmatan..

Kawan… ingatkah kalian akan pahlawan
 


Untuk Pahlawan Negeriku

Untuk negeriku…
Hancur lebir tulang belulangku
Berlumur darah sekujur tubuh
Bermandi keringat penyejuk hati
Kurela demi tanah air negeriku
Sangsaka merah berani
Putih suci
Melambai-lambai ditiup angin
Air mata bercucuran, menganjungkan doa
untuk pahlawan negeri
Berpijak berdebu pasir
Berderai kasih hanya untuk pahlawan jagad raya
Hanya jasamu bisa kulihat
Hanya jasamu bisa kukenang
Tubuhmu hancur hilang entah kemana
Demi darahmu ….
Demi tulangmu ..
Aku perjuangkan negeriku ini, Indonesia
.
 





Himne
Puisi yang bertemakan pujaan untuk tuhan, pahlawan dan tanah air
Pak de

Asri nian itu taman
Kembang berwarna-warni bertebaran
Kupu-kupu berterbangan

Disela-sela dedaunan
Terdengar dentang cangkul beradu dengan batu
Di bawah pohon palem taman itu
Sesosok pria tua

Penuh peluh bercucuran
Dari pagi hingga petang
Tak kenal lelah merawat tumbuhan
Itulah pak de

Pria tua yang bersahaja
Karena nya taman itu kini
Bisa indah asri

 




Kaum Muda

Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang

Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantun keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia


 
                                                                                                                              


                                                                                                                              
PRESIDENKU

Presidenku
Kau telah membawa nama baik bangsa
Kau bagaikan pahlawan Indonesia

Wahai Presidenku
Di kala kami kesusahan
Kau membantunya
Sungguh besar jasamu

Oh Presiden
Kau sungguh mulia
Keikhlasanmu
Bagai bunga yang tengah mekar






Guru

Pahlawan tanpa tanda jasa
Ialah Guru
Yang mendidik ku
Yang membekali ku ilmu
Dengan tulus dan sabar

Senyummu memberikan semangat untuk kami
Menyongsong masa depan yang lebih baik
Setitik peluhmu
Menandakan sebuah perjuangan yang sangat besar
Untuk murid-muridnya

Terima kasih Guru
Perjuanganmu sangat berarti bagiku
Tanpamu ku tak akan tahu tentang dunia ini
Akan selalu ku panjatkan doa untukmu
Terimakasih Guruku
 


Pahlawan tanpa tanda jasa

Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berfikir hanya untuk sebuah keberhasilan

Tiada lafaz seindah tutur katamu
Tiada penawar seindah senyuman mu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Menabur benih kasih tanpa rasa lelah

Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajah mu
Semangat mu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu

Jika engkau akan melangkah pergi
Ku tau  langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu telah tiada dirimu kan selalu di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana.
 


Puisi Untuk Ayah dan Ibu

Ayah.. Ibu.. engkaulah kekasih yang ku dambakan
dan engkaulah pujangga hati yang ku rindukan..
Jasamu tak pernah sempat ku balas karena,
pengorbanan darimu bagaikan awan yang takan pernah hilang di tiup angin
dan pelajaran darimu takkan binasa seperti pasir di pantai

dan kasih sayang darimu lah aku bermakna.
dan darimu lah hidupku bisa berwarna
tapi tanpamu aku bgaikn pahlawan kesiangan
dan nyaliku menciut hampir malam tuk ku ucapkan..

IBU.. Langit takkn pernah bisa untuk mendegar tetapi.
Bisikan hatiku selalu tersimpan di dalam firasat mu

AYAH.. Air takkan pernah bisa untuk berhenti mengalir
dan semangat darimu juga takkan terhenti..
Tuhan.. ku ingin selamnya di pelukan mereka sampai ajal menjemput kita….

 



Ode
Puisi yang bertemakan sanjungan untuk orang bersahaja

 
Pada Kamu

Aku melihat suara lewat matamu
Saat bibirmu tertutup rapat
Tapi jelas membuatku makin
menatapmu bersama degup jantungku
yang tak pernah menentu…

Apa pernah kamu mendengar cinta
yang tak bersuara meneriakkan
manisnya kesedihan ?
itulah aku yang ada di kamu
pada sebilah cinta
yang tlah menggores hati
sedalam dalamnya …

Aku melihat suara lewat senyummu
saat matamu terjemahkan rindu
hmm…aku kian terpesona pada indahnya
kamu..
pada cantiknya
kamu

Aku melihat suara setiap saat
lewat segalamu
tentang kamu
 


Arti Cinta

Di dalam kedinginan jiwaku
Kau hadir mendekap erat kalbuku

Dalam kesendirian nuraniku
Kau temani aku dengan kemesraan
Dalam kegalauan jiwaku
Kau hadir untuk menghiburku

Dalam kesepian malamku
Kau hadir dalam indahnya mimpiku
Tiada yang kupikirkan selama ini
Kecuali aku merasa berarti bersamamu
Kan kuayun langkahku ini

Bersama irama kerinduan
Kangen khan slalu menyelimuti hatiku
Tak ada sesuatu terindah untuku
Karena kau segala-galanya bagiku

 


BIDADARI TANPA SAYAP


Kelembutan hatinya membuatku terpana. . .
Melihat kehindahan Rembulan,
Sama seperti melihat keindahan wajahnya.

Sungguh kuat dia menghadapi ini semua. . .
Menghadapi keaadaannya yg begitu nyata.
Merasakan penderitaannya sendirian.
Dan mengukur penderitaan diatas mimpi . . .

Walau dia hanya Bidadari tanpa sayap,
Tapi kelembutan hatinyalah yang membuatku merasa seperti.....
Berada di atas awan.
 


MELUKIS CINTA


Dapatkah aku melukis cinta untukmu?
Mengguratkan sejuta warna
yang bisa membuatmu indah..

Dapatkah aku melukis cinta untukmu?
Seperti notasi mimpi kupu-kupu
bersayap biru,
Terbang bersama menuju negeri pelangi..

Dapatkah aku melukis cinta untukmu?
Mengisyaratkan lelahku di jalan resah!
 


SELEMBAR PUISI UNTUK KEKASIH


Terpaku dalam kegundahan hati
Terasa tak dapat ku lawan dengan jari-jari
Tiada lagi tempat hari yang terasa ada
Hanya lelah
Lelah yang ku rasa……………

Andaikan waktu itu tak terjadi
Mungkin hatiku takan remuk seperti ini
Langkahku terhenti dalam kelamnya malam
Mataku terhalang jurang yang dalam
Pendengaranku sayup-sayup tak menentu
Hatiku terombang ambing dalam ombak kemarahan
Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi
Mungkin tiada lagi yang dapat terjadi saat ini
Semangatku lemah hatiku susah
Teringat malam itu yang menyakitkan
Inikah kehidupan?

Kurasa semua bukan seperti ini
Mungkin masih ada titik terang
Yang akan menyinari kegelapan hati
Memberi pujian untuk diri sendiri
Meredamkan semua yang ada saat ini
Hingga aku dapat kembali ke kehidupan yang indah ini
 




RASA CINTAKU


Kau tiba-tiba hadir dan isi hatiku yang kosong...
Hanya kau yang ada dipikiranku sekarang...
Aku tak tau bagaimana caramu mengisi hatiku...
Engkau sungguh membuatku tak mengerti...
Rasanya hatiku jadi tak menentu...
Untukku kau sangat berharga...
Lihatlah diriku ini yang berjuang untuk cintamu...

Aku sangat mencintaimu
Namun kau tak pernah sadari itu
Walau perih hati ini...
Aku disini kan selalu setia menantimu...
Rasakanlah cintaku ini begitu besar untukmu...
 



Romansa
Puisi yang bertemakan luapan perasaan cinta kasih seseorang

 
Badai Di Hatiku
badai di hatiku hempaskan lenaku
menghantam sudutnya hingga porak-poranda
meluluhlantakkan rindu hingga tak sempat berbuah cinta
meretakkan dinding-dinding hati
di mana di sana kuukir indah wajahmu
badai di hatiku kian menggelora
ketika petikan gitarku tak mampu mengiringi sayatan gemulai biolamu
ketika detik yang terketik untuk syairku terdengar picisan oleh senandungmu
aku melupakan diri
terdengar desah angin lembah
membisikkan getar-getar gairah
api kecintaan untuk dirimu
tergeletak dalam layu dan sosok gersang
terkulai dalam lagu dan kata usang
badai di hatiku hancurkan jiwaku
luruhkan teguhnya hingga erosi
mengikis yakinnya hingga abrasi
aku bersenandung dalam bingung
dengan tembang liriknya bimbang
aku merintih sedih
aku menjerit sakit
aku khilaf lalu kalap
aku menyerah dan kalah
kasih…
lepaskanlah hatiku
dari cintamu yang berkabut

 
                                                                                                                                                       


                                                                                                                                                       
Biar Langit Yang Memutuskan
Hangatnya perapian malam
Mengingatkanku akan hangatnya pelukanmu
Kesejukan sungai kebahagiaan
Bagai menatap senyummu
Damainya jiwaku..
Di mana.. belas kasih itu?
Bersamamu seperti mimpi semu
Hanya bisa merasakan abadinya duka
Dalam hati tersimpan banyak doa..
Kau bilang kita pasti bisa
Bisa paling mencintai
Bersama sampai tua
Bersatu hingga mati
Kau bilang perbanyak doa dan harapan
Impian kita pasti kan terwujud
Namun apa yang terjadi kini..?
Biarlah Langit yang memutuskan..
Satu keinginan..
Cinta kita jangan sampai berubah
Hati kita tetap menyatu
Menciptakan bahagia bersama
Tak semudah yang kita duga..
Bagaimana.. harus ku hentikan air mata?
Impian kita hanya sebatas dalam mimpi..
Biarlah Langit yang memutuskan
Tentang akhir cerita cinta kita..

 


Rembulan Yang Tinggal Separuh

Semilir angin kian lembab
Lahirkan titik titik embun diujung dedaunan
Jangkrik bersiul merdu
Sayup suara Ku si burung hantu
Suasana malam yang kian pekat nan senyap
Temaniku dalam pilu
Aku tergugu, Gejolak rindu seolah membeku
Rembulan yang tinggal separuh Mengintip dari celah jendela kamarku
Dia pun terlihat agak sendu Meski tetap tersenyum merayu
Seolah dia tahu gundahku…
Oh rembulan tahukah engkau…
Diujung langit mana dia terbang?
Tak satupun nampak jejak juga bayang
Masihkah rindu ini harus ku genggam
Hingga sampai saat itu menjelang
Aku mencintainya sepenuh hati
Amat merinduinya meski telah pergi
Ku hanya ingin bertatap Walau hanya sekejap
Namun itu takkan mungkin terjadi
Tidakkah seharusnya rasa ini telah mati
Dan sirna dari hati ini…
Namun dia tetap bertahta di palung sanubari…

 


Rasa kemarin
Kemarin aku dengar kata yang menyakitkan
kata darimu yang ku sayang
pecahkan hatiku yang mencintaimu
Mungkin cinta itu harus lama mengenal
sedangkan aku terlalu cepat
sama cepatnya dengan bayangmu yg masuk dalam hatiku
Kini entah harus aku bayanganmu itu ?
aku lupakan atau ku biarkan tetap tinggal
Semoga gelap malam segera bisa mengajariku doa melupakan rasa itu, agar detak jantungku normal di hadapmu ta’ lagi bergemuruh agar bibirku ta’ lg kelu menyapamu
ajari aku menjadikanmu biasa !

 


Teriakan Hati
Di saat terpikir tentang dia
yang entah ada di mana
terkadang hati teriak dengan kehampaannya
mencari dan menunggu hati cintanya
ku menangis tanpa air mata
ku teriak tanpa suara
hanya merasakan sakitnya hati
begitu tersiksa menunggu yang di nanti
begitu berat melepaskan rasa ini
yang sudah merasuk dalam hati
mungkin bila aku nanti mati
sesalku akan abadi
akankah penantian ini berujung bahagia
ataukah hanya asa semata
tapi hatiku kan selalu tegar menghadapinya
walau akhirnya hanya membuat luka

 


Ratapan tangis pilu
sepenggal kata ku telan
separuh nafas terhempaskan
tertunduk wajah bermuram

pecah sudah diamku
hening hilang telah menyamar
luluh jiwa dalam tegar

menghampar sudah sungai bermuara
mengalir rintik air
mula berkaca terpa rupa
bening menetes embunku
basahi wajah lara nestapa


hirauku tepiskan waktu
sudikah kau?

tangisku beku meratap pilu
 



elegi
Puisi yang berisikan kesedihan dan ratap tangis
 


Puisi untuk DPR
Anda menganggap diri yang hebat tetapi Anda masih mengemis kepada kami.
Anda menganggap Anda terhormat tapi Anda sendiri yang meminta pengampunan kepada kami.
Anda pertimbangkan sendiri berpendidikan tetapi Anda tidak memiliki aturan.
Anda menganggap diri Anda orang yang tepat tapi kalian semua pembohong.
Anda membuat aturan untuk istirahat Anda.
Anda membuat peraturan untuk membatasi hak-hak kami.
Anda membuat rakyat Indonesia menderita hanya untuk menyelamatkan diri dan keluarga Anda.
Anda pikir kami penjahat.
Jangan pernah memberitahu kami keadilan karena Anda munafik.
Anda adalah penjahat dan pengkhianat terhadap bangsa ini!
Anda adalah pembohong dan pembangun korupsi di negeri ini!
Anda membuat Indonesia hancur!
Anda membuat Indonesia lapar dari anak-anak sampai cucu!
Tapi ingat dan sadar akan hal ini …!
Kita tidak akan pernah percaya siapa Anda!
Kita tidak akan pernah tunduk kepada Anda!
Kita tidak akan pernah tertipu oleh orang yang sama sama bodohnya dengan Anda!
Kami tidak akan menyerah mencari tahu siapa Anda!
Kita tidak akan pernah mengganggu hidup Anda lelah!
Kita tidak akan pernah tertipu oleh penipuan seperti Anda!
Kami akan tetap cinta Indonesia, tetapi tidak atas nama anda!

 




Panggung Sandiwara

Aku hanyalah sebagian penonton dari acara itu
Sebuah acara yang mungkin hanya ada di negeriku
Cerita kenyataan yang dipenuhi sandiwara
Dengan lakon para pejabat negara

Inilah aku rakyat jelata yang selalu dibodohi cerita sandiwara
Begitu manis dan lembutnya sampai semua tak tersadar
Inilah negeriku yang katanya tanah surga
Ya, surganya bagi para pelaku sandiwara
Menghabiskan semua isi surga dengan kata manisnya

Mungkin air mata ibu pertiwi benar-benar kering
Tak henti-hentinya menangis
Melihat anak-anaknya berebut mainan
Sebuah mainan yang bisa membuat mereka saling membunuh
yaitu kekuasaan


Inilah aku yang hanya bisa menatap sebuah cerita
Terus dan trus menjadi bodoh olehnya
Aku yang bodoh adalah surga baginya
Sampai mereka lelah menikmati isi surga
 




Narkoba
Hari-hari ku tak seindah pelangi
Malam-malam ku tak sebaik malam mu
Semua yang ku lakukan akan berubah
Namaku tak sesuci yang dulu

Air yang jernih akan menjadi keruh
Hati yang bersih akan menjadi terpengaruh
karna dirimu membuat orang bahagia
tapi hanya sesaat

Semua ini terjadi di sebabkan oleh mu
Karna dirimu..
Membuatku sengsara
Karna dirimu membuat ku terluka
Karenamu
Masa depan menjadi suram
Keluarga berantakan

Aku sangat membenci mu
Walau pun kau selalu dipuja-puja
Karena dirimu Haram Bagi Ku

 
Secuil Surat Untuk [Tuan] Presiden

Bapak Presiden Yang Terhormat,
Kami marah bukan karena benci.
Kami marah karena cinta.
Cinta yang kepalang besar bagi pertiwi
yang tanahnya sudah kami injak puluhan tahun,
yang udaranya kami hirup setiap hari,
yang hasil buminya memberi makan mulut-mulut kami.

Prihatin tak lagi cukup, Bapak.
Beragam janji dan instruksi tidak lagi mampu membungkam mulut kami,
karena kami sudah kenyang dengan janji.
Kami lelah… menunggu tanpa daya.
Kami letih menonton tanpa bisa berbuat apa-apa.
Kami ingin pajak yang kami bayarkan digunakan untuk sebaik-baiknya
kepentingan
rakyat dan pembangunan negara,
karena sekalipun kami hidup berkecukupan,
jutaan penduduk Indonesia belum menikmati kehidupan yang layak.

Sudah cukup kami merasa pedih melihat uang hasil jerih payah kami
digunakan untuk plesiran anggota dewan yang terhormat,
sementara jutaan rakyat miskin makan nasi yang sudah kotor setiap hari.
Bapak, tolong dengarkan kami. Lakukan sesuatu.
Bertindaklah agar kami tahu orang yang kami pilih
memang layak mengemban kepercayaan kami.



 





Kami tak minta banyak, sungguh. Jangan bilang itu terlalu sulit.
Kelak bila
harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi kami kompensasi: Bapak akan membuat kami mengantre
untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan.

Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak,
benarkah Bapak suka melihat kami mengantre—
panjang-mengular dari Sabang sampai Merauke?

Kami tidak suka itu, Pak.
Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin.
Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami,
pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya
untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’
yang konon sedang gawat itu.

Tak perlu naikkan BBM,
pakailah uang kami itu:
kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan
bangsa!

 
Presiden Kebohongan publik

Di layar kaca kucari kau
Tampak lusuh tanpa ekspresi
Apakah yang kau sandang membebanimu???

Jangan coba kau khianati
Yang memilihmu terus mengharapmu
Perut lapar,atap bocor,baju sobek,putus sekolah yang menantang
Yang memilihmu tidak butuh pidato-pidato palsu
Tidak menanti puja-puji negeri seberang

Hampir sewindu
Tapi yang menantang hampir bahkan sudah menang
Yang memilih siap menghukummu
Tahtamu berlalu
Bahkan untuk kau wariskan tak akan menang

 



Rokok

Pagi hari yang sunyi
Kau temani diriku
Ku hisap kau pelan-pelan
Kau masuki setiap inci paru-paruku
Kurelakan tubuhku kau rasuki
Ku tahu itu
Ku rasakan itu

Kopi cinta sebagai pasanganmu
Menemani hari-hariku
Tak lebih tak kurang
Penghancur pelan
Dengan nikmat sesaat
Makin ku hisap dirimu
Makin tak kuasa ku tolak
Walau ku sadar kau wahai racun jingga
Yang mengotori setiap tetes darahku

Aku harus berhenti menjadikanmu teman
Kau harus kutinggalkan di hari-hariku kini
Walau dalam kesendirianku
Dalam kesunyian dan kesepian
Aku yakin aku bisa
Selamat tinggal racun jingga
Rokok
Pagi hari yang sunyi
Kau temani diriku
Ku hisap kau pelan-pelan
Kau masuki setiap inci paru-paruku



Makin ku hisap dirimu
Makin tak kuasa ku tolak
Walau ku sadar kau wahai racun jingga
Yang mengotori setiap tetes darahku

Aku harus berhenti menjadikanmu teman
Kau harus kutinggalkan di hari-hariku kini
Walau dalam kesendirianku
Dalam kesunyian dan kesepian
Aku yakin aku bisa
Selamat tinggal racun jingga

 

Kurelakan tubuhku kau rasuki
Ku tahu itu
Ku rasakan itu
Kopi cinta sebagai pasanganmu
Menemani hari-hariku
Tak lebih tak kurang
Penghancur pelan
Dengan nikmat sesaat

Makin ku hisap dirimu
Makin tak kuasa ku tolak
Walau ku sadar kau wahai racun jingga
Yang mengotori setiap tetes darahku

Aku harus berhenti menjadikanmu teman
Kau harus kutinggalkan di hari-hariku kini
Walau dalam kesendirianku
Dalam kesunyian dan kesepian
Aku yakin aku bisa
Selamat tinggal racun jingga

 



Satire
Puisi yang berisikan sindiran dan kritikan

 
APA GUNANYA.
Apa gunanya bicara
jika tuturnya mengundang luka
pada hati yang sedia parah
menanggung beban kecewa
seribu duka terpendam
teramat dalam.
Apa gunanya  memujuk
jika rajuknya sudah berdarah
mengalir tanpa henti
pekat dan merah
hangat memikul sebak
teramat ngeri.
Apa gunanya memohon maaf
jika maknanya sudah tiada
pintanya terlalu kerap
atas kesilapan berulang-ulang
menjadikan ia  pelarian
mainan kata-kata
teramat murah
Apa gunanya kesal,
jika segalanya sudah terlambat
tak mungkin berpaling lagi
menyambung suatu kebodohan
kerana yang berlaku
adalah bukti kecuranganmu
teramat nyata

 


BAHASA
Mari kita berbahasa
sebaiknya
bahasa adalah pengatur
pucuk fikiran yang bertabur
bahasa adalah pelentur
ranting perasaan yang bersiur
Dengan bahasa
terlihat fakta padu
terlihat sinar ilmu
terlihat cinta biru
Dengan bahasa
pemimpin memaparkan arah
di pentas siasah
dengan bahasa
orang beriman menikmati ibadah
khusyuk dan pasrah
Mari kita berbahasa
sebaiknya
Dengan bahasa
budi dipertingkatkan
mesra diperlebarkan
dengan bahasa
kita menjadi kita
bersama
Jika tanpa bahasa
bagaimana akan kita setujui
perjanjian ini
Mari kita berbahasa
sebaiknya.


 


Puisi Doa Sang Bumi
Sejuk aroma sejuk dalam hisapan..
Mereguk ke dalam rongga paruku hingga sesak..
Membasahi setiap keringnya kisi hati..
Mengusap semua nestapa dan hibur kelam yang ada..
Membuat kita kian terlena..
Begitu dalam dan sangaaat dalam..
Membuat lubang angkara tanpa terasa..
Kita hanya bisa berdecak kagum..
Saat bumi berpanorama asri..
Saat angin semilir melambaikan setiap pepohonan nan hijau..
Dan kita terbuai tidur hingga lengah..
Akan amanah yang harus kita jaga..
Demi gemerlap suatu kisi kehidupan..
Angkara terukir segaris, setitik, dan kelamaan kian menggunung..
Entah pada sang alam ataukah manusia dan mahluk hidup di sekitarnya..
Mencontreng keelokan paras sang bumi..
Merobek setiap koreng yang bernanah..
Dan terus membuat palung yang begitu curam..
Lihatlah tanah kian mengkerut..
Mengernyit dengan gemeretak lelah..
Menahan angkara manusia di atas perutnya..
Peluh tanpa dirasa …
hingga gembur nuansa kian nyata..
Aku perih, pedih, menangis, seperti teriris sembilu..
Sadarkah aku telah tua dan renta ?
Menahan semua ambisi dan angkara manusia …
Terinjak-injak dan terus menusukku tanpa nurani..
Aku kan terbelah …
Lambat laun …
Maafkan aku sang manusia
Jikala kiamat datang melalui diriku..
Tanpa dapat ku halangi dan ku sangkal..
Aku telah renta setelah sekian abad aku berputar..
Aku tak lagi baik untukmu …
Aku kan gersang tak lama lagi …
Aku semakin panas …
Ku mohon … dan kumohon …
Tentang belas kasihan melalui belai kasihmu..
Menuai kedamaian di atas perutku..

 


jeritan di tanah gersang


Terik matahari menyengat perih
Debu-debu menempel risih
Tanah retak, rumput kering merintih
Di bagian ujung bumi ini.....
Bermimpi hujan turun kembali
Atau sekadar embun di pagi hari
            Disana...ditempat yang jauh dari kemilau dunia
            Disaat yang lain berharap nikmat
            Disaat kita berselimut hangat
            Di kala itu dia sekarat
            Di hari itu dia berteriak serak
            Berharap iba pada dunia yang congkak
            Hingga tanpa daya lemah tergeletak...
Wahai dunia........
Tidakkah kau dengar jerit tangisnya?
Tidakkah kau lihat nanar matanya?
Tidakkah kau rasa perih hidupnya?
                      Dia tak ingin istana menyala
                      Mereka tak minta kemilau emas di raga
                      Hanya setitik cinta dari sang penguasa
                      Atau seteguk air di bejana
                      Tak sanggupkah kita?

 


Tangisan  SiKecil


Dengarlah  suara tangisan dan rintihan
Dengarlah suara jeritan yang meminta  pertolongan
Dari insan  kecil  yang meminta bantuan
Dari mangsa mangsa kekejaman

Lihatlah  penderitaan mereka
Lihatlah  kesensaraan mereka
Lihatlah tangisan mereka
Dan lihatlah  kesedihan mereka
Wajah  yang tak pernah  tahu
Apakah itu peperangan

Titisan airmata mereka berguguran
Meminta simpati dan belas eksan
Tubuh mereka yang meratapi kesakitan
Kesakitan akibat menjadi mangsa peperangan

Apakah mereka yang harus dijadikan sasaran
Akibat senketa  olih insan-insan yang kejam
Yang hanya inginkan kuasa dan nama yg gemilang
Lalu mereka dijadikan korban peperangan

Bangkitlah wahai teman-teman
Bantulah insan  kecil yang malang
Lindunglah mereka dari segala  seksaan
Bawalah mereka jauh dari  kekejaman

 



Epigram
Puisi yang berisikan tuntunan dan ajaran hidup


Nb : Keterangan jenis puisi di bawahnya  ( jadi 6 puisi, baru keterangan jenis puisi tersebut )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar